| “Kecelakaan Sejarah” Yang Indah |
| Rabu, 02 Agustus 2006 | |
|
[Bagi masyarakat Pekalongan, nama H.A Djunaid dikenal sebagai orang âkaya yang melegenda.â Salah satu monumen ekonomi yang dibangun bersama beberapa pengusaha etnis Arab dan Cina adalah Kospin Jasa, yang sekarang menjadi koperasi simpan-pinjam terbesar di Indonesia.] Di antara tamu-tamu yang duduk di lobi sebuah kantor Kementerian, lelaki itu tampak duduk tenang. Mengenakan stelan semi jas yang diterika rapi dan bersepatu mengkilat. Matanya rajin memperhatikan tiap orang yang keluar-masuk ruangan, tempat Pak Menteri menerima para tamunya. Begitu dia mengenali seorang ajudan, hatinya merasa lega. Dia tahu benar bagaimana cara memotong jalur protokoler yang sering bertele-tele untuk bertemu seorang Menteri. âItu salah satu keahlian Pak Djunaid. Urusan yang bagi orang lain mesti memakan waktu lama, bisa dipersingkat lewat lobi oleh Pak Djunaid,â tutur H. Mukmin Bakri, seorang saksi hidup berdirinya Kospin Jasa. Kospin Jasa yang sekarang tumbuh dan berkembang menjadi koperasi simpan-pinjam terbesar di Indonesia, menurut Penasihat Kospin Jasa, itu didirikan pada 13 Desember 1973 dan diresmikan 3 Maret 1974. âLatar belakang berdirinya adalah situasi ekonomi yang waktu itu sulit bagi para pengusaha Pekalongan mencari modal kerja,â tuturnya. Para pengusaha Pekalongan, yang kebanyakan adalah pengusaha batik dan tekstil, bergabung dalam Koperasi PPIP (Pengusaha Perbatikan Indonesia Pekalongan). Koperasi yang didirikan pada 1948 ini, tutur Mukmin, mulai limbung perkembangannya pasca G30S/PKI 1965. âDekade 1950 â 1960-an masa kejayaan koperasi. Kegiatan ekonomi kerakyatan digerakkan oleh koperasi-koperasi,â ceritanya. Bung Hatta yang kala itu menjadi Wakil Presiden, sangat gigih memperjuangkan koperasi. Di sinilah hubungan Bung Hatta dengan tokoh-tokoh koperasi seperti Djunaid, terjalin amat akrab dan mesra. âHubungan akrab Pak Djunaid bukan hanya dengan Bung Hatta, tapi juga dengan para menteri. Mereka sangat konsern pada koperasi,â kisah Mukmin, yang pernah menjadi Ketua Kospin Jasa itu. Keadaan ekonomi berubah seiring bergantinya kekuasaan dari pemerintah Orde Lama ke Orde Baru, yang dikomando oleh Presiden Soeharto. Kejayaan koperasi menyurut drastis. âRoda ekonomi bukan lagi digerakkan oleh ekonomi kerakyatan yang berbasis koperasi, malainkan konglomerasi yang serba membutuhkan modal sangat besar,â tutur Adi Sasono, Menteri Koperasi pada periode Presiden Habibie. Untuk mengembangkan diri menjadi besar, koperasi butuh modal besar pula. âMenjelang tahun 1970-an, memang sangat dilematis,â kata Mukmin. Di satu pihak koperasi susah untuk mengurus diri sendiri, di lain pihak mereka harus bersaing dengan para perusahaan besar (multinasional) yang memperoleh fasilitas dana dan berbagai kebijakan dari pemerintah. Bank-bank yang ada, terutama bank-bank pemerintah waktu itu seperti BRI, bukan lembaga keuangan yang dekat dengan koperasi. âMakanya, cita-cita Pak Djunaid waktu itu sebenarnya mendirikan bank sendiri, khususnya untuk para pengusaha Pekalongan,â tutur Mukmin. Cita-cita itu bagai menggantang asap. Alasannya, kata Mukmin, âMana mungkin awal 1970-an orang bisa bikin bank sendiri.â Dalam keadaan buntu itulah, Djunaid menempuh terobosan yang menentukan. Beberapa pengusaha yang pernah diajak berembuk untuk membuka bank, dia yakinkan untuk untuk mendirikan koperasi simpan-pinjam. Jadilah, Kospin Jasa. âNama itu atas usul Pak Mirza,â tutur Mukmin mengingatkan. Mirza yang dimaksud adalah Mirza Djahri, yang juga pernah menjadi Ketua Kospin Jasa, menggantikan H.A. Djunaid yang meninggal pada 1982. Ketokohan Djunaid yang dikenal sebagai orang kaya di Pekalongan, makin mencorong. Namun, bukan berarti perjalanan Kospin Jasa begitu saja mulus. âBanyak orang yang ragu, karena belum ada bukti koperasi simpan-pinjam itu bisa besar,â kata Mukmin. Tak sedikit pula yang melontarkan kelakar bernada sinis; di saat orang butuh modal, malah disuruh menyimpan. Mukmin bercerita, di kalangan para pengusaha batik sendiri bahkan banyak yang mau pinjam uang dulu, lalu dengan uang pinjaman itu mereka akan ikut iuran menjadi anggota Kospin Jasa. Terlebih lagi, para pengusaha yang diajak Djunaid bukan cuma terbatas pada pengusaha batik (pribumi) Pekalongan, tapi juga kalangan Arab dan Cina. Menurut Mukmin, itu sebenarnya konsern Djunaid pada keadaan ekonomi secara umum. âJadi, bukan hanya melulu problem ekonomi orang pribumi Pekalongan saja,â katanya. Alasan lain menyebutkan, itu justru menunjukkan luasnya pergaulan dan gagasan Djunaid untuk membangun ekonomi kerakyatan Indonesia. Ekonomi kerakyatan Indonesia tak lain adalah koperasi itu. âPak Djunaid itu memang orang koperasi. Kalau bicara ekonomi, tentu dari sudut koperasi,â tutur Sachroni, Sekretaris Kospin Jasa, yang direkrut menjadi pegawai Kospin Jasa sejak Februari 1974. Realitas sosial masyarakat Pekalongan era 1960-an agaknya juga ikut menjadi pertimbangan Djunaid untuk menyatukan semua potensi ekonomi dalam sebuah koperasi, baik pribumi, Arab, mau pun Cina. Hubungan sosial ketiga etnis itu memang tidak semesra sekarang. âKalau berantem terus, kapan kita bisa membangun masyarakat lewat ekonomi,â tutur Zaky Arslan, Ketua Kospin Jasa, yang pada dekade 1960-an aktif dalam ormas pelajar Islam. Di samping Djunaid sebagai tokoh sentral, ada beberapa nama tokoh yang menjadi orang dekatnya dan ikut andil mendirikan Kospin Jasa seperti Ang Tiang Soen dan Thio Tek Djhiang. Juga orang-orang PPIP seperti Mirza Djahri, Mukmin Bakri, dan Trisno Akwan. âAda satu nama yang muncul belakangan, tapi orang ini yang menentukan gagasan dari bank menjadi koperasi simpan-pinjam. Yaitu, Pak Mardjani,â tutur Mukmin. DR. Mardjani dan Thio Tek Djhiang sekarang menjadi Dewan Penasihat Kospin Jasa. Anehnya orang Pekalongan, setelah koperasi didirikan, harus mencari manajer. Bunyi kelakarnya; âmaklum, //juragan kabeh.//â Manajer pertama, kata Mukmin, adalah Nunuk Hamata Hasan. âDari dialah, kemudian direkrut beberapa nama yang memang tahu benar mengelola koperasi simpan-pinjam,â ujarnya. Jika dikenang sekarang, sejarah Kospin Jasa mirip sebuah âkecelakaan sejarahâ yang indah. âIndah, karena sekarang berhasil,â tutur Mukmin tersenyum. Asetnya mendekati Rp 1 triliun dan memiliki 56 kantor cabang di seluruh Jawa. (EHAKA) |




