headline

Optimalisasi fungsi koperasi ala Andy Arslan

Di saat pelaku koperasi simpan pinjam atau koperasi jasa keuangan dan koperasi jasa keuangan syariah berupaya meyakinkan pemerintah bahwa pendirian Lembaga Penjamin Simpanan Koperasi mempunyai tingkat urgensi sangat tinggi, pria ini setuju saja.
Dia setuju atas rencana pendirian lembaga tersebut, karena akan memberi trust lebih tinggi bagi debitor yang mengandalkan dana dari gerakan koperasi sebagai lembaga keuangan mikro. Khususnya koperasi jasa keuangan dan koperasi jasa keuangan syariah (KJK/KJKS).
Sebab, debitor yang telah memanfaatkan koperasi sebagai sumber pembiayaan dan permodalan usaha maupun ketika menyimpan dana, makin merasa nyaman. Itu sebabnya Ketua Umum Koperasi Simpan dan Jasa (Kopsin Jasa) sangat setuju atas rencana pendirian lembaga tersebut.
Namun sebagai orang yang telah memberikan layanan kepada debitor melalui puluhan kantor cabangnya, Andy Arslan Djunaid, mengutarakan konsep yang lebih luas dari sekedar pendirian Lembaga Simpan Pinjam Koperasi (LPS-K).
“Saya lebih cenderung apabila KJK/KJKS mengusulkan mendirikan Koperasi Central untuk menjadi lembaga independen membawahi seluruh koperasi yang melayani jasa keuangan bagi seluruh pelaku usaha mikro dan kecil (UMK),” katanya.
Dengan mendirikan Koperasi Central yang memiliki peran seperti Bank Indonesia untuk perbankan, maka seluruh KJK/KJKS bisa mengandalkannya sebagai institusi yang mengatur seluruh keperluan operasional koperasi yang melayani pembiayaan sektor UMK. Pria kelahiran Pekalongan 40 tahun lalu tersebut menilai fungsi Koperasi Central jelas lebih besar dibandingkan dengan LPS-K. Akan tetapi, ketika Forum Komunikasi dan Sinergi KJK/KJKS menyuarakan keinginan mendirilkan lembaga penjamin, Andy Arslan setuju saja.
Meski demikian dia minta kepada seluruh anggota KJK/KJKS mempertimbangkan beberapa hal, karena gerakan koperasi sudah saatnya memiliki lembaga khusus seperti Koperas Central yang bisa berperan lebih luas terhadap kebutuhan operasionalnya ke depan.
”Kalau saya selalu optimistis melalui gerakan koperasi, khususnya melalui sektor pembiayaan, bisa berperan menumbuhkan wirausaha yang masih perlu ditingkatkan kwantitasnya lebih dari 2% dari jumlah populasi penduduk Indonesia.”
Dari sisi pengalaman melayani debitor yang bersasal dari sektor UMK, Kospin Jasa harus diakui memiliki pengalaman lebih baik dibandingkan dengan beberapa KJK/KJKS lainnya di Indonesia. Di luar Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), Kospin Jasa memiliki aset paling besar, yakni Rp2,4 triliun.
Suka tidak suka, Kospin Jasa memiliki keunggulan layanan dan pengalaman, sehingga bisa menjadi acuan bagi koperasi lain yang ingin memberi layanan pembiayaan untuk sektor UMK.Dia baru diangkat menjadi Ketua Umum Kospin Jasa, setelah ketua sebelumnya Zaky Arslan Djunaid meninggal pada awal Maret 2012.
Namun, sebelum ayahandanya tersebut meninggal dunia, posisi Andy adalah Wakil Ketua Umum, sehingga membuat adik kandung Wakil Walikota Pekalongan ini sudah memiliki wawasan matang untuk melayani sektor riil.
Salah satu parameter kesuksesan operasional koperasi ini adalah fasilitas baru yang telah diluncurkan, yakni kartu anjungan tunai mandiri (ATM). Kartu ATM tersebut sudah bisa dipergunakan secara internasional hasil kerja sama dengan Visa sebagai pemilik otoritas kartu kredit internasional.
Kospin Jasa saat ini telah memiliki 75 cabang kantor konvensional dan 17 cabang kantor syariah. Koperasi ini terus berkembang untuk bisa mengejar masuk peringkat 300 Global Cooperative, atau koperasi 300 besar dunia.
Aset koperasi yang didirikan atas kolaborasi tiga etnis ini, China, Arbad, dan Jawa, diperkirakan lebih dari Rp2,4 triliun sehingga menjadi salah satu koperasi paling diandalkan masuk 300 besar dunia di luar induk koperasi lain Indonesia.
Kospin Jasa juga sudah menjakin kerja sama demean beberapa perusahaan untuk fungsi sebagai institusi pembayaran gaji bulanan karyawannya. Yakni, PT Icon, CV Nusa Daya Yogyakarta dan CV Tri Sakti Wilayah Jateng dan Jabar.
Perusahaan-perusahaan tersebut mempercayakan Kospin Jasa melakukan penggajian karyawannya melalui sistem yang telah diciptakan melalui kartu ATM Kospin Jasa.
Secara khusus koperasi ini bekerjasama dengan PT Telkom Indonsia dalam konteks menjadi koperasi modern. Kriteria koperasi modern adalah yang telah menggunakan fasilitas information and communication technology (ICT) dalam implementasi bisnisnya.
“Kospin Jasa maju dan besar karena kerja keras semua karyawan dan kesetiaan anggota, bukan karena ayahandanya maupun dia secara pribadi. Atas dasar kepercayaan tersebut, kami optimistis Kospin Jasa akan tetap besar melalui segmen layannya yang khusus.”
Menurut dia, aset Kospin Jasa yang bisa dicapai saat ini karena telah menerapkan nilai-nilai dan prinsip koperasi. Dan hal ini diakui Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan ketika membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) koperasi itu pada Maret 2012.
Adapun pertumbuhan aset Kospin Jasa terus meningkat signifikan, yakni dari Rp1,778 triliun pada 010 menjadi Rp2,408 triliun pada 2011, dan terhitung 28 Maret 2012 sudah mencapai Rp2,471 triliun. Untuk simpanan keseluruhan tercatat Rp1,637 triliun pada Desember 2010, dan meningkat jadi Rp2,66 triliun pada Desember 2011. Kemudian mencapai Rp2,194 triliun hingga Maret 2012. Dari sisi pinjaman bagi anggota, Kospin Jasa telah menyalurkan Rp1,267 Triliun pada Desember 2010, dan meningkat jadi Rp1,521 triliun hingga Desember 2011. Terakhir mencapai angka Rp1,654 pada Maret 2012.
Kospin Jasa bahkan hampir menyamai reputasi perbankan, karena akses kredit dari pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa dicairkan dengan nominal Rp10 miliar. “Tergantung proposalnya, karena bisa juga lebih dari nominal tersebut.”
Berkembang berdasarkan kepercayaan anggota dan nasabah serta dukungan kinerja karyawannya, Kospin Jasa bahkan sudah meyediakan berbagai sarana dan fasilitas seperti Djunaid Convention Center di kawasan Buaran Pekalongan, Jateng.
Komplek atau kawasan terpadu seluas 4,5 hektar itu dilengkapi fasilitas rumah sakit, pondok pesantren, mesjid dan ruang pertemuan berkapasitas 1.500 orang itu, diprioritaskan untuk kegiatan anggotanya. Sebelum berbentuk rumah sakit, koperasi itu sudah mengoperasionalkan klinik pengobatan.
Ponpes Modern Al Quran, menspesialisasikan para santri pada segmen Al Quran. Kawasan itu juga dilengkai Akademi Kebidanan untuk memperkuat operasional rumah sakit maupun meningkatkan pelayanan terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat setermpat khususnya. Keuntungan operasional tidak dimasukkan ke neraca keuangan Kospin Jasa. Fokusnya adalah untuk memberikan layanan kepada anggota maupun masyarakat yang tidak mampu.
Kospin Jasa pernah berkeinginan menjadi penyalur dana kredit usaha rakyat (KUR), karena segmen layanan mereka benar-benar mengarah pada usaha rakyat. Namun sampai saat ini belum bisa direalisasi, meski potensinya menjadi penyalur sangat besar.
Kebijakan pemerintah yang memberikan jaminan bagi dana KUR, belum bisa mengakses dana untuk melakukan layanan langsung kepada debitornya. Koperasi bisa menjadi penyalur, jika dilaksanakan melalui linkage. Kospin Jasa menilai tanpa mengandalkan akses dana dari perbankan, sudah bisa mandiri melayani debitor KUR. Adapun modal penyaluran berasal dari anggaran sendiri sehingga tidak perlu demean linkage. (sumber : bisnis-kepri.com)

BerbagiShare